Bulan Oktober tahun lalu aku berkunjung ke sebuah desa di pelosok Jawa Barat. Aku ikut serta ayahku yang hendak melakukan survei awal untuk pembukaan lahan perkebunan di desa tersebut. Kami berada di sana selama satu 40 hari. Aku dan ayahku diizinkan tinggal di rumah Pak Kepala Desa, sementara kolega ayah yang lain tersebar menginap di beberapa rumah warga. Tidak ada tempat penginapan di radius 50 km. Kami terpaksa merepotkan para warga.
Pak Kades dan keluarganya ramah menyambut kami. Setiap malam kami diajak makan bersama. Pak Kades punya tiga orang anak, anak sulung dan anak kedua sudah tidak tinggal di rumah, tinggal si bungsu masih tinggal menemani pasangan yang sudah cukup sepuh ini.
Sedikit cerita, Pak Kades sendiri sebenarnya bukan asli desa ini. Dia adalah peserta program sarjana masuk desa bertahun-tahun silam, yang kemudian memilih menetap setelah masa baktinya selesai karena kebetulan menikah dengan penduduk asli.
Minggu pertama di desa, aku diajak berkeliling oleh anak bungsu Pak Kades yang kebetulan berusia hampir sama denganku. Karena aku memang senang bergaul, Uci (nama anak Pak Kades) memperkenalkanku kepada teman-temannya. Aku mengikuti mereka bermain ke bukit-bukit yang akan dijadikan perkebunan oleh perusahaan ayahku.
Semua berjalan biasa saja sampai…
Hujan!
Tiba-tiba anak-anak itu berhenti bermain. Aku tahu yang kalian pikirkan. Tentu saja wajar jika mereka berhenti bermain untuk berteduh dari hujan. Bukan itu yang kumaksud. Mereka benar-benar berhenti secara harfiah. Seperti menjadi patung. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengguncang-guncang bahu mereka sambil bertanya ada apa. Wajah mereka tertunduk. Khusyuk. Seperti orang sedang sembahyang.
Apa-apaan ini?
Karena hujan itu cukup deras, aku berinisiatif sendiri mencari sebuah gubuk untuk berteduh. Dari jarak sekitar 10 meter, dari dalam sebuah gubuk terbuka, aku memperhatikan mereka yang benar-benar bergeming di bawah guyuran hujan.
Ini gila.
Aku mulai merinding, tapi bukan karena kedinginan.
Setengah jam kemudian hujan deras itu tiba-tiba berhenti sebagaimana ketika ia dimulai. Uci dan teman-temannya bubar, persis seperti orang yang bubar setelah melakukan sebuah ritual penting. Uci menghampiriku dan mengajakku pulang.
Aku penasaran setengah mati, tapi juga takut untuk bertanya karena wajah Uci masih terlihat sangat serius. Masih ada sisa-sisa kekhidmatan di sorot matanya. Aku pun hanya mengikutinya pulang tanpa bicara sedikitpun.
Malam itu barulah Pak Kades menjelaskan di meja makan, bahwa warga desa sini memang punya semacam ritual ketika turun hujan. Awalnya Pak Kades sendiri merasa aneh dan tidak menghiraukan perkataan orang desa.
Ketika pertama kali datang ke desa, Pak Kades muda yang masih sangat ilmiah dan metropolitan itu mengabaikan perkataan warga yang menghimbaunya untuk berhenti melakukan segala aktivitas ketika hujan mulai turun.
***
Waktu itu, Kades Muda sedang membuat sistem irigasi untuk kebun-kebun warga. Tiba-tiba hujan pertama di musim penghujan turun dengan sangat deras. Karena sudah kadung basah kuyup (saking tiba-tibanya hujan itu), Kades Muda tetap melanjutkan pekerjaannya membuat irigasi. Ia tidak sempat memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang serentak diam membatu. Tiga puluh menit kemudian hujan pun berhenti. Orang-orang beranjak pulang. Kades Muda menyadarinya dan bertanya kenapa mereka tiba-tiba pulang padahal pekerjaan membuat irigasi belum rampung. Tidak ada satu pun yang menjawab. Mereka hanya berjalan pulang tanpa berkata apa-apa. Karena memang tidak mengerti atau justru tidak peduli, Kades Muda tetap asyik melanjutkan kegiatannya. ‘Mungkin mereka sudah capek,’ pikirnya waktu itu.
Keesokan harinya Kades Muda mengalami demam yang sangat tinggi, mual, dan sakit kepala. Tentu saja dirinya yang ketika itu masih ilmiah berpikir bahwa sakitnya disebabkan oleh guyuran hujan hari kemarin. Dia hanya meminta dibelikan obat demam kepada induk semangnya ketika itu—yakni kades terdahulu, selanjutnya kita sebut sebagai Kades Tua. Seminggu berlalu, demam, mual, dan sakit kepalanya tidak juga sembuh, masih sama sakitnya dengan hari pertama gejala tersebut muncul. Kades Muda minta diantar ke dokter di kota kecamatan. Jaraknya cukup jauh dan jalur yang harus dilalui tidak mulus karena waktu itu jalannya belum diaspal. Di tengah jalan, tiba-tiba turun hujan, sekonyong-konyong Kades Tua menghentikan mobilnya.
“Ada apa, Pak?” Kades Muda bertanya.
Kades Tua bergeming.
Karena pusingnya masih sangat terasa, Kades Muda tak sanggup bertanya lebih jauh dan memikirkan hal macam-macam. Ia hanya mampu merapatkan selimutnya untuk menahan udara dingin karena hujan. ‘Aduh, hujan sialan…’ Kades Muda menggerutu dalam hati.
Setengah jam kemudian hujan berhenti. Mobil pun melaju kembali.
Di tengah sakit kepala yang menderanya, Kades muda memutuskan untuk kembali bertanya. Ia merasa tidak terima ketika mobil tiba-tiba berhenti tanpa alasan. Untuk apa mobil diberi atap kalau ketika hujan harus berhenti? Apa bedanya dengan motor kalau begitu?
“Pak, kenapa tadi pas hujan Bapak tiba-tiba berhenti?” Padahal kan saya sedang sakit begini, lanjutnya dalam hati.
“Aden mau sakit itu sembuh? Bukan dokter yang Aden perlukan.” Kades Tua menjawab dengan santai.
“Maksudnya gimana, Pak?”
“Berani taruhan, paling nanti dokternya bakal kasih Aden obat yang sama dengan yang sudah Aden minum kemarin. Dokter tidak akan menemukan hal yang aneh di tubuh Aden.” Kades Tua menjelaskannya seperti benar-benar sedang bertaruh dan yakin akan menang.
Kades muda semakin bingung, tapi akalnya ketika itu tidak sanggup memberikan opsi lain selain lanjut memeriksakan diri ke dokter.
Benar saja, di klinik yang dituju, Kades Muda malah dibuat semakin bingung. Sang dokter awalnya memeriksa tubuhnya seperti biasa, kemudian mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan diagnosa awal. Ketika Kades Muda menjelaskan bahwa sakitnya dimulai pasca diguyur hujan tempo hari, dokter itu langsung berhenti memeriksa. Raut wajahnya tampak berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang sesuatu. Berkali-kali dokter itu menghela napas panjang, sebelum akhirnya berkata:
“Bukan saya yang Tuan Muda butuhkan saat ini. Silakan kembali.”
Kades muda meninggalkan ruangan klinik dengan kebingungan yang hampir berubah menjadi takjub. Takjub karena saking membingungkannya urusan ini. Apakah dia sedang dijahili? Tapi oleh siapa?
“Gimana kata dokter?” Kades Tua langsung bertanya begitu Kades Muda kembali ke mobil.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan saya?” Kades Muda balik bertanya karena ia tahu itu pertanyaan retoris.
Kades Tua tersenyum. “Kalau Aden mau sembuh, silakan ikut saya.”
“Ke mana?”
Kades Muda menyerah dengan kebingungannya dan memutuskan untuk mengikuti apa kata Kades Tua.
Aku hanya ingin sembuh. Sakit kepala ini bikin gila rasanya.
Tanpa banyak bicara mereka kembali menuju desa. Menanjak. Ternyata tidak berhenti sampai di desa, tapi terus menanjak ke atas. Jalan itu baru pertama kali dilihat oleh Kades Muda.
Mereka tiba di sebuah gubuk tua, tampak lebih primitif dari semua gubuk yang pernah Kades Muda lihat. Setelah beruluk salam, pintu gubuk itu terbuka perlahan. Kades Tua melangkah masuk dengan gestur yang menunjukkan bahwa tempat yang akan ia masuki adalah tempat suci. Kades Muda memutuskan untuk meniru gestur itu. Pokoknya pasrah lah. Yang penting cepat sembuh.
Begitu masuk sepenuhnya ke dalam gubuk itu, seketika hawa dingin dari luar tergantikan oleh gelombang udara hangat. Visual mendung berubah menjadi temaram yang nyaman, berasal dari belasan lampu teplok yang bertengger di dinding ruangan. Ada juga aroma campuran bunga yang sangat memanjakan indera penciuman. Kades Muda geleng-geleng dalam hati. Gambarannya tentang rumah dukun yang mengerikan menguap sudah.
“Kunaon?” Suara berat seorang pria tiba-tiba terdengar.
Kades Muda baru menyadari bahwa di tengah ruangan itu ada seorang pria yang sedang duduk bersila di atas sebuah dipan. Dari wajahnya, ia tampak tidak terlalu jauh usianya dengan Kades Tua, tapi entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya tampak jauh lebih tua secara mental. Kades Tua pun tampak sangat menghormatinya.
“Den, sok, mangga, perkenalan diri…” bukannya menjawab pria itu, Kades Tua malah berbicara pada Kades Muda, menyuruhnya memperkenalkan diri.
Kades Muda sedikit kaget.
Kok malah disuruh ngomong? Harusnya Bapak yang ngomong, kan Bapak yang antar saya ke sini.
Karena tidak ada opsi lain yang bisa dilakukan, Kades Muda memilih mengawalinya dengan berusaha tersenyum dan mengangguk pelan.
Pria itu membalas senyum dan anggukan Kades Muda.
“Punten, Pak, perkenalkan, nama saya Ridwan.” Kades muda mengulurkan tangan.
Pria itu menjabat tangan Kades muda sebentar, lalu melepasnya lagi.
Sekarang apa? Kades Muda melirik ke Kades Tua. Yang dilirik malah sedang melihat ke arah dua buah kursi tua di salah satu sisi ruangan.
“Sok, mangga, duduk dulu.” Pria itu mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk.
Kades Tua beranjak duduk. Kades Muda mengikuti.
“Ceritain sakitnya Aden.” Kades Tua berbisik di telinga Kades Muda.
Kades Muda pun menceritakan sakit yang dialaminya. Pria itu mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
“Aden sudah punya istri?”
“Belum, Pak.”
“Syukur kalau begitu.”
“Memangnya kenapa, Pak?”
“Kalau Aden sudah beristri, bisa jadi istri Aden juga mengalami hal serupa.”
“Memangnya saya ini sebenarnya kenapa, Pak?”
Bukannya menjawab, pria itu malah beranjak dari duduk silanya, lantas pergi ke ruangan sebelah. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa sebuah gelas bambu.
“Sok, mangga, diminum.” Pria itu menyodorkan gelas yang—ternyata—berisi air kepada Kades Muda.
Ingin rasanya Kades Muda bertanya air apa itu, kenapa ia harus meminumnya, dan pertanyaannya yang dari tadi belum juga dijawab: sebenarnya dia sakit apa. Namun, demi melihat aura bersahabat dan kharisma yang memancar dari pria itu, Kades Muda memutuskan untuk menurutinya saja.
Ternyata benar-benar cuma air. Air itu mengalir seperti udara melewati kerongkongan. Halus. Tidak panas, tidak juga dingin. Rasanya seperti sedang bernapas.
Segar ju—
Tunggu.
Kades Muda menempelkan tangan kiri ke dahinya.
Sembuh? Begitu saja?
Pria itu tersenyum lebih lebar melihat reaksi Kades Muda.
“Hujan itu berarti alam sedang membersihkan diri.” Pria tadi kembali ke posisi duduk bersila. “Sebagai bagian dari alam, manusia sudah seharusnya berperilaku santun dan tahu adat. Karena, seperti manusia, alam juga punya tata krama. Sebagaimana kita bertemu dan bersikap sopan kepada sesama manusia, maka hal itu juga berlaku pada interaksi kita terhadap alam yang agung. Tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri. Semuanya terhubung. Semuanya saling mendukung. Hidup akan baik jika kita selalu tahu diri dan rendah hati.”
***
Ayah mendengarkan cerita Pak Kades sambil lalu saja. Berbeda denganku yang memang sangat penasaran. Di akhir cerita, Pak Kades menambahkan bahwa di pertengahan acara pernikahannya dengan Bu Kades, saat itu turun hujan. Pak Kades, yang ketika itu sudah bertaubat, ikut mengheningkan cipta bersama warga yang mau-mau saja basah kuyup pakai baju kondangan. Namun, hasilnya memang luar biasa. Hujan pada acara pernikahan itu ternyata bermakna pemberkahan. Seusai hujan reda, warga desa tidak langsung pulang seperti biasanya, tapi segera memberi selamat kepada Pak Kades dan istrinya. Jadi pada hari itu, dua kali mereka mendapatkan ucapan selamat. Yang pertama karena sudah menikah, yang kedua karena alam juga turut merayakan pernikahan mereka.
Siapa sangka di kemudian hari sarjana dari luar desa itu bisa menjadi kepala desa yang sangat dihormati oleh semua warga?
Aku pikir itu cerita yang amat manis. Aku bisa melihat istri Pak Kades tersipu malu ketika Pak Kades bercerita tentang hujan itu. Rupanya, mereka berdua juga bertemu untuk pertama kali di saat hujan turun, istri Pak Kades menambahkan. Pada taraf ini aku curiga bahwa setiap anak Pak Kades lahir, pasti diiringi hujan turun.
“Setiap anak-anak kami lahir, pasti begitu juga, Néng. Makanya kami senang betul dan tidak khawatir. Kami yakin mereka akan menjadi anak-anak yang baik.”
Nah, benar kan?
Uci berusaha menahan senyum setelah mendengar ucapan ayahnya. Aih, manis betul keluarga ini.
Malam itu sebelum tertidur aku memikirkan semua cerita Pak Kades. Aku bahkan dengan bodohnya bertanya kepada Uci apakah betul ketika ia lahir turun hujan. Tentu saja Uci tidak ingat. Tapi kemudian Uci menjelaskan semacam informasi tambahan kepadaku mengenai karakteristik dan makna dari setiap hujan yang turun. Ternyata ada tata cara membacanya. Sungguh menarik.
***
‘YAH! AYAH! BANGUN, YAH!’ Rasanya aku sudah mengerahkan seluruh energiku untuk berteriak dan menangis, tapi rupanya tak ada sedikitpun suara yang keluar. Semua kata-kata hanya menggantung di benak. Di hadapanku, teronggok tubuh Ayah yang bersimbah darah.
Saat hendak ke kamar mandi, tiba-tiba Ayah muntah darah dan langsung pingsan. Aku, yang melihat kejadian itu secara langsung dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, segera berlari menghampiri Ayah. Siapa saja, tolong Ayah. Benakku berteriak, tapi pita suaraku seperti dikunci. Aku tidak bisa berteriak memanggil Pak Kades. Aku segera berlari ke kamar dan membangunkan Uci. Aku mengguncang-guncang tubuh Uci sekuat tenaga. Uci membuka matanya dan heran melihatku yang bersimbah air mata.
Begitu mengetahui apa yang terjadi, Uci langsung berteriak memanggil Pak Kades. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, rumah Pak Kades sudah dipenuhi oleh warga yang berbondong-bondong datang setelah mendengar suara pentungan.
Ayah langsung dimasukkan ke dalam mobil Pak Kades (mobil yang sama yang membawa Kades Muda dulu—hal yang baru aku ketahui belakangan). Beberapa orang warga ikut masuk ke dalam mobil. Ayah segera dibawa ke puskesmas terdekat.
Aku yang tadinya ingin ikut, dilarang oleh Pak Kades. Aku langsung menurut saja karena takut. Aku hanya bisa menangis tanpa suara di dalam pelukan Bu Kades—ibunya Uci—dan juga Uci yang terus menggenggam tanganku erat. Beberapa warga yang datang mengusap kepalaku, tanda bahwa mereka turut bersimpati, sekaligus semacam doa atau harapan bahwa semua akan terselesaikan dengan baik.
Hampir dua jam setelah Ayah dibawa pergi, aku baru teringat Ibu di rumah. Ada prediksi mengerikan yang tercetus di benakku bahwa Ibu pun sedang tidak baik-baik saja. Aku memencet tombol panggilan di ponselku dengan hati hancur yang teraduk-aduk.
“Halo, Non! Non, hape Bapak kok tidak diangkat-angkat? Ini dari tadi Bibi menelpon ke hape Bapak, Non. Ya ampun, Non…” Bi Ati, asisten rumah tangga di rumah kami yang mengangkat telponku. Firasat burukku semakin menuju kebenaran. Suara Bi Ati tampak jelas bahwa dia sedang panik.
Bi—sial. Aku lupa aku sedang tidak bisa bicara. Aku menyerahkan ponselku kepada Uci.
Uci langsung tanggap dan berbicara dengan Bi Ati. Butuh beberapa waktu untuknya memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa aku sedang tidak bisa bicara. Bi Ati tidak langsung percaya. Uci akhirnya bilang bahwa aku sedang pingsan. Pasti Bi Ati bertanya kenapa aku pingsan. Mau tidak mau, Uci pun akhirnya harus menjelaskan kejadian yang menimpa ayahku. Bi Ati di seberang sana langsung menangis dan meratap.
Uci bertanya tentang ibuku. Bi Ati tidak langsung bercerita yang sebenarnya. Pada saat itu, Bi Ati mengatakan bahwa ibuku mengalami sebuah kecelakaan kecil. Tidak ada di pihak kami yang mengetahui bahwa saat itu Ibu mengalami kecelakaan yang cukup parah, mobilnya terperosok ke sebuah jurang, dan dia—saat itu—sedang dalam keadaan koma. Jika mengetahui fakta tersebut saat itu juga, mungkin aku benar-benar pingsan.
Entah berapa banyak waktu yang masih kami punya.
Tinggalkan komentar