Di usia mulai serius mencari pasangan hidup, menurut saya hal paling penting untuk dijadikan pertimbangan adalah menentukan keluarga seperti apa yang hendak dibangun kelak. Disclaimer dulu ya: apa yang saya tulis ini mungkin terkesan sangat aneh karena muncul dari orang yang mulai tidak percaya pada efektifitas institusi keluarga dan pernikahan dalam menghantarkan manusia berproses menuju kenasmatean hakiki, tapi, hey… menjadi komentator bola tidak perlu bisa main bola, kan?
Tanpa visi, baik sebuah keluarga ataupun seorang manusia, akan jatuh ke dalam salah satu di antara dua kondisi ini: menjadi sekrup kapital atau menjadi idealis veteran yang egois. Kondisi dunia yang memang secara default merupakan kesengsaraan, mengharuskan manusia yang diberi privilege berupa otak yang bisa berkhayal untuk menggunakan kelebihan tersebut. Akan tetapi, buatlah khayalan yang proporsional dan tetap dalam koridor realitas. Jika tidak, hidup akan menjadi lebih berat dari seharusnya. Jadi, kalau tidak berkhayal itu hidup akan menjadi hampa, sedangkan kalau berkhayal secara serampangan hidup akan menjadi terlalu berat. Ya, sebenarnya tidak apa-apa juga sih. Bebas kok. L1f3 iS aCh0IcE.
Jika Anda hendak punya anak, tentukanlah kompetensi dasar yang ingin Anda lekatkan padanya secara jelas. Saya masih skeptis tentang konsep apakah seorang anak terlahir sebagai blank atau sudah ada sesuatu di dalamnya. Either way, bukan berarti orang tua bisa berlepas tangan atau malah terlalu mengekang. Jangan tentukan anak akan menjalani profesi apa, tapi tentukan ia akan menjadi seperti apa dalam menjalani profesinya itu—apapun itu profesinya. Tentukan nilai-nilai itu dengan jelas dan tegas. Ada nilai-nilai dasar yang perlu sekali ditanamkan sejak dini, dan saya rasa ini adalah bagian paling berat dari tanggungan kerja orang tua. Pendidikan formal dan lanjutan bisa mengantarkan anak menjadi apapun yang ia mau, tapi pendidikan primer di dalam institusi keluarga adalah apa yang akan menentukan perilakunya sebagai manusia. Jadi, kalau Anda dengar berita mengenai pejabat korup, mahasiswa pemerkosa, atau politisi ampas, ada kemungkinan orang-orang tersebut memang tidak mendapatkan pendidikan primer yang baik dan kuat. Dan ada berapa banyak keluarga seperti itu yang menjadi kerangka penyusun masyarakat kita?
Karena hidup ini begitu gersang, sangat menakutkan rasanya ketika dua orang yang sama-sama menyadari kegersangan itu bertemu. Bukankah jalan bersama bisa mencapai tempat lebih jauh? Tidak juga. Bisa jadi malah lebih cepat mati karena… entahlah, matematikanya sebenarnya sederhana. Satu botol air yang seharusnya cukup untuk satu orang berjalan sejauh—taruhlah—10 kilometer, kalau dibagi dua jadi hanya bisa berjalan sekitar 5 kilometer, kan? Nah, siapa pula yang membuat perkataan bahwa kalau bersama bisa lebih jauh, pasti matematikanya hanya ponten tiga. Dakara, beda kasusnya kalau ternyata satu botol itu isinya amer, bukan air putih. Kalau demikian kasusnya, tentu lebih baik berdua, supaya dosanya pun terbagi dua. Ini sungguh matematika yang sangat mudah.
Kecintaan pada visi bersama harus diletakkan di atas kecintaan mutual. Hal ini sebagai bentuk jaga-jaga kalau hal buruk terjadi, misalnya kematian atau perselingkuhan. Penting untuk menjaga supaya rasa sayang tidak mengkorupsi rasionalitas dan mental kedua belah pihak. Oleh karena itu, tahap paling krusial sebenarnya adalah ketika Anda menilai apakah calon pasangan Anda bersedia mati demi Anda atau atau dia bersedia mati demi cita-cita.
Menentukan cita-cita itu sendiri adalah “a whole other thing”. Bagaimana sekiranya cita-cita yang baik dan benar? Apa patokannya? Bagaimana mengukur potensi realisasinya? Bagaimana menempatkan cita-cita tersebut di dalam arus peradaban manusia? Bagaimana menghubungkannya dengan konteks masyarakat aktual? Apakah ada alternatif? Sejauh mana kompromi bisa diberikan? Bagaimana menciptakan sistem asuransinya? Buat rencana A – Z. Ribet lah, pokoknya.
Akhirul kalam, semua hal di atas tidaklah penting jika hasrat terdekat Anda saat ini adalah kepingin mati.
Nice!
Tinggalkan komentar