Lunarisla


Bukan Cinta

Aku jatuh cinta kepadamu bukan karena perlu.

Juga bukan karena alam semesta yang memberi restu.

Perasaan ini tak begitu agung sampai-sampai seluruh dunia harus tahu.

Dan keinginan ini tidak suci dari kekurangan-kekuranganku.

Nyata atau tidaknya, aku tak peduli.

Selamanya atau hanya detik ini saja, aku tak mau ambil pusing.

Sayang, kita hanya manusia. Tidak luar biasa.

Hidup akan begini saja. Tidak perlu menjadi apa-apa.

Tak ada yang perlu kubuktikan.

Tak ada yang perlu kau korbankan.

Kita tetap mampu berjalan tanpa harus saling mempertanyakan.

Aku meyakinimu dengan nyawaku. Tak ada pertaruhan.

Cinta membuat semuanya kecil di hadapannya.

Cinta ada dan menelan segalanya.

Cinta menggugat manusia dalam kealpaannya. Cinta selalu menang.

Cinta menjadi bahasa yang kita tuturkan bahkan dalam amarah dan kebingungan.

Aku minta maaf jika membuatmu mesti menunggu.

Inginnya takdir berpihak kepada kita. Sayangnya, takdir tak dapat kita cerna.

Harapan juga sebetulnya hanya hiburan belaka.

Tali kekang hanya tersedia bagi urusan di hadapan mata.

Sejujurnya, aku takut pada awalnya. Aku merasa tak berdaya.

Kubayangkan cinta itu harusnya ia menjawab apapun rupa keraguan dan luka-luka kita.

Ternyata aku mencari yang tak dibutuhkan dan mungkin tak pernah ada.

Ternyata bukan begitu cara kerjanya.

Cinta hanya merekam dan mempertemukan.

Cinta membuka dan membentangkan. Cinta menunjukkan jalan.

Selebihnya, kita yang mewujudkan.

Peluh dan tawa.

Juga keberanian kita.

Kita yang menanggungnya. Kita dalangnya.

Bukan cinta.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai