Aku kadang mikir bahwa ketika kita ngomong, “Aku berani,” itu menunjukkan bahwa jauh di lubuk hati kita sebenarnya kita ini takut. Lebih-lebih kalau ditambahi partikel seperti, ‘kok!’, ‘sih!’, atau ‘dong’. “Aku berani kok!” sounds very unconvincing. Apalagi kalau kata-kata itu diucapkan kepada diri sendiri, tanpa ada orang lain yang menjadi pendengar.
Kok bisa gitu ya? Kenapa kita seperti didesain untuk berbohong bahkan kepada diri sendiri?
Ada lagi nih. Misalnya ngomong, “Aku yakin pasti bisa.” Itu bisa jadi ada dua ketidaksesuaian. Pertama, aslinya nggak yakin. Kedua, aslinya nggak pasti, kalau ini memang karena default-nya di dunia ini ga ada yang pasti kecuali mati. Maksudku, kalau sampai harus keluar kata ‘yakin’ bukankah itu berarti sebenernya nggak yakin? Kalau yakin betulan kan nggak perlu ngomong bahwa dirinya yakin. Ya udah, yakin aja, gitu. Nggak perlu dideklarasikan. Ini kan soal sesuatu yang ada di dalam diri kita, ngapain dunia luar tahu? Buat apa?
Adakah perbedaan psikologis antara kita ngomong yakin dalam hati, ngomong yakin secara verbal, dan nggak mikirin soal itu sama sekali? Aku rasa orang yang paling yakin, haqqul yakin, itu justru orang yang sama sekali nggak kepikiran bahwa dia ini yakin atau nggak. Iya nggak, sih?
Nah, sialnya ini nggak berlaku sebaliknya. Ketika kita bilang, “Aku takut,” itu 100% memang lagi takut. Malah bikin makin takut. Terus, ketika kita ngomong, “Aku nggak yakin bakal bisa,” itu bakal berdampak lumayan besar pada keberhasilan yang ingin dicapai. Jadi menurun kesempatan untuk berhasil-nya. Istilahnya, kalau sudah ragu sama diri sendiri, gimana mau mencapai keberhasilan, iya kan?
Kok seperti nggak balance gitu, ya?
Bahasa sebagai produk kesadaran kita memang merepotkan. Sama merepotkannya dengan kesadaran itu sendiri. Bahasa memungkinkan manusia memutarbalikkan realitas—sesuatu yang seharusnya dicandra secara apa adanya. Tapi sialnya cuma melalui bahasa juga celah-celah yang ada pada bahasa bisa didiskusikan, dilempar ke tengah khalayak untuk diperdebatkan, atau sekadar dijadikan bahan baku untuk tampak sedikit lebih intelek dari biasanya. Ekhm!
Maka dari itu aku berpikir bahwa bahasa itu punya batas penggunaan supaya dia menjadi efektif. Dalam kasus tertentu, batasnya adalah batas minimal. Misal, untuk bikin orang percaya bahwa virus korona betulan ada, perlu campaign yang lumayan masif, kan? Kalau nggak jutaan orang nge-buzz soal kasus ini, sulit rasanya mayoritas orang sedunia bisa sepakat.
Di kasus lainnya batas itu berupa batas maksimal. Misalnya kata maaf. Kalau sudah keseringan, dia jadi gak berarti lagi.
Selain batas penggunaan, bahasa juga menurutku punya batasan bentuk atau ukuran. Maksudnya, apakah ia diutarakan dalam bentuk satu buku full, sebuah essai, satu paragraf, satu kalimat, atau bahkan cuma satu kata. Setiap bentuk punya waktu dan tempat yang spesifik supaya dampaknya bisa maksimal.
Tapi aku rasa, zaman dulu, hampir semua bahasa adalah mantra. Magic. Klenik. Terserahmu lah. Intinya, kalau kulihat-lihat, pada masa lalu bahasa punya intisari yang lebih padat ketimbang zaman sekarang. Dulu mungkin orang kalau ngomong satu kalimat, di dalam satu kalimat itu semua kata penyusunnya merupakan kata penting dan berisi. Sebab mungkin baheula itu orang-orang juga lumayan berhemat urusan berbicara.
Mungkin kalau ditarik lebih jauh ke masa lalu, bentuk bahasa itu semakin padat lagi. Artinya, satu kata saja sudah cukup untuk kasih makna, untuk menyampaikan maksud, dan untuk bikin hewan-hewan yang di-domestikasi tunduk sama manusia.
Kalau ditarik lebih jauh lagi, mungkin awal bahasa itu cuma satu huruf, ya? Bisa jadi, kan?
Huruf apakah itu?
Tinggalkan komentar