Waktu pulang dari Jakarta pagi tadi, di dalam KRL, sambil mendengarkan musik lewat earphone, aku sempat membayangkan sesuatu yang bisa dibilang agak seram. Aku membayangkan bagaimana kalau KRL yang sedang aku naiki tidak pernah berhenti dan aku tidak pernah mencapai tujuanku. Bagaimana kalau KRL ini terus melaju selamanya, dengan kondisi yang juga tidak berubah selamanya, yakni cuaca sekitar jam 9 pagi, langit cerah, melewati kiri-kanan perkebunan atau lahan kosong? Akunya juga tidak berubah. Jadi aku tidak akan lapar, tidak akan mengantuk, tidak akan pengin pipis, tapi otakku tetap berjalan seperti biasa. Terjebak di satu momen yang sama untuk selama-lamanya.
Kalau dipikir-pikir, hal seperti itu lah yang selama ini mungkin dialami oleh higher being, entah itu dalam konsep multi-higher being atau konsep monad. Bagi dia/mereka yang tidak berada di dalam garis waktu, keabadian itu adalah niscaya. Tapi apakah itu hal yang bagus?
Mungkinkah lebih enak punya batasan waktu seperti yang selama ini kita, manusia, alami?
Tapi di sisi lain, punya batasan waktu dan bisa menghilang begitu saja ke dalam ketiadaan juga rasanya tidak masuk akal. Kalau kita pakai analogi naik KRL tadi, taruhlah KRL-nya jadi melaju seperti biasa, bakal mencapai tujuan tertentu. Setelah sampai di tujuan, yakni stasiun terakhir, aku sebagai si penumpang tidak akan berhenti di stasiun kan? Pastinya aku sudah punya tujuan selanjutnya, yakni pulang ke rumah.
Tapi berada di rumah pun tidak selamanya. Suatu saat, entah itu besok, minggu depan atau kapan, pasti aku bakal keluar rumah lagi—untuk nantinya bakal kembali lagi juga, ke rumah. Begitu terus.
Jadi ya, terus aja bergerak. Entah sampai kapan. Ujung-ujungnya, apa bedanya dengan keabadian?
Tinggalkan komentar