Lunarisla


PUSARAYA

Inilah duniamu. Inilah waktumu. Seberapapun buruknya, inilah hidupmu. Meskipun tak benar-benar kau miliki, inilah satu-satunya yang kau punya. Inilah kegelisahan, kecemasan, dan rasa takut yang harus kau hadapi sendirian.

Inilah puncak keberadaanmu sebelum kau akhirnya lenyap ditelan fana.

Inilah coretan darah yang kau torehkan di atas tembok penjara. Menjadi saksi kegagahanmu menantang paruh tuhan, inilah bukti kebesaranmu. Inilah nyanyian para pemuja, menyambut matinya keraguanmu. Setelah lelah mengitari diri sendiri tiada henti, inilah kemenangan mutlakmu atas penciptaan sepihak itu.

Inilah ruang gerakmu. Inilah tangis dan tawamu menjadi satu. Inilah belati yang kau gunakan untuk berburu, sekaligus membunuh kawanmu sendiri. Inilah tragedi yang kau rayakan tak jemu-jemu. Inilah gagap gempita di tengah penderitaan semua yang ada.

Inilah nestapa yang menjelma rindu.

Inilah kegilaan yang menyaru dewan guru.

Inilah kehancuran yang menjadi candu.

Kau sebenarnya tahu, inilah yang selama ini kau cari. Inilah yang selalu kau nanti-nanti. Tak peduli seberapa berat tanganmu harus menopang tubuh pada lututmu yang lusuh, inilah perjalananmu. Inilah ingatan yang sengaja dulu kau hilangkan. Inilah pembayaran kejam atas dosamu melupakan.

Inilah kelalaianmu. Inilah manusiamu. Inilah ketidaksempurnaan yang kau banggakan terus-menerus. Inilah rasa haru yang sebelumnya kau remehkan. Inilah ketidaksiapanmu mengemban cinta yang begitu dalam. Inilah pilihanmu yang paling tepat di antara sejuta kemungkinan. Meskipun kau mengutuknya, inilah jalur neraka yang kau kagumi dengan tinggi.

Inilah suaka jiwamu untuk luka-luka yang menganga. Inilah obat penawar atas lumpuhnya kemampuanmu untuk merasakan duka. Inilah racun pengetahuan yang kau tenggak secara sukarela. Inilah bumimu, yang sudah ada sebelum rasa sakitmu ada. Inilah bedanya, kau memendam, bumi memuntahkan.

Inilah bencana yang kau harapkan. Inilah malapetaka yang kau bawa dalam setiap doa. Inilah keputusasaan yang kau ajarkan pada orang-orang lapar agar mereka berhenti melawan. Meskipun jumlahnya tak terhingga, inilah satu kematian yang kau langkahi dengan penuh sabar. Inilah kedewasaanmu.

Inilah kesepianmu.

Kebodohanmu.

Kasih sayangmu yang begitu ranum.

Setiap kau putuskan untuk berpaling dari takdirmu, betapapun pilu, inilah aku.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai