Through loneliness we shall see our truest self.
Anonymous
Memang sudah disinyalir bahwa Tuhan menciptakan makhluk oleh sebab rasa kesepian yang maha dahsyat, yang tak tertangguhkan, yang melandanya dalam ketidakberwaktuan, yang tak terhindarkan. Akan tetapi, seribu, sejuta, sayang semilyar sayang, bahkan dengan tak berhingganya ciptaan yang ia bentuk dan hancurkan, tak ada yang terpacu, tak ada yang mampu, tak ada yang mahu, menutupi dahaga diri-Nya akan kawan sebaya. Sungguh malang.
Begitulah awal semulanya manusia butuh yang namanya, sebut saja, kolega. Dibuat bergantung dan mencandu kehadiran sesama. Padahal tidak ada yang sama. Sungguh. Sama sekali tidak ada. Sebab, setiap detik dan titik adalah rintihan Si Esa yang ingin mengakhiri segala-galanya, selama-lamanya, tanpa ada kembalinya. Namun rupanya tak pernah terlaksana. Hahahaha. Katanya berkuasa.
Selanjutnya terjadilah kala. Kala itu durjana. Brengsek tak terkira. Bangsat lah, pokoknya. Katanya kala lah yang merusak sekaliannya para ada. Para pengada juga gelisah. Kok bisa kala seakan-akan punya daksa? Siapa sebenarnya dia? Virus dari mana? Tujuannya apa? Begitu piawai dia menyobek jejaring reka-reka para ada. Sehingga mereka jadi terlupa-lupa, buta, terlunta-lunta, dan yang paling parah: kehilangan minat baca.
Apa info ini bisa dipercaya? Belum tentu. Tunggu dulu. Sebentar.
Kemarin hari apakah Saudara ingat kita bertaruh janji?
Tidak?
Pantas saja. Wajar jadinya bahwa seisi planet ini dipenuhi omong kosong semata. Kata-kata menjelma cela. Menetas dari pikiran liar orang-orang jemawa. Bukan begitu, Pak? Sudahkah Bapak periksa isi tengkorakmu itu? Ada bercokol apa di sana?
Sudah bergulir berkali-kali purnama. Sudah saya laksanakan perintah hamba sahaya. Sudah saya lupakan ketidakadilan yang menimpa. Sudah beku kembali darah pada luka. Sudah betul-betul. Sudah saya robohkan sekitar dua seperempat berhala cita-cita yang masih ada, sudah purna, bahkan yang belum terencana. Sudah semua. Namun belum juga tertawa para penjaga.
Ini menjadi keheranan tersendiri bahwasanya kami belum bertatap muka. Agaknya dia kurang suka. Atau mungkin mereka tidak terdorong untuk membuka suara. Maupun telinga. Konon setiap pertemuan sudah ada cuplikannya. Benar. Bisa tergambar dari raut muka, katanya. Atau juga mata. Kuncinya adalah selalu menjaga aliran napas dan daras. Tak lupa menatap ke langit lepas.
Suruh saja saya ke sana. Bertemu karma.
Mengais darah. Menyisihkan puing-puing pusara.
Tinggalkan komentar