Lunarisla


Milad

Info A1 dari Tondy masih kupegang. Mungkin aku memang dendam sama modernitas. Nggak bisa menerima bahwa diriku ternyata masih sangat attached dengan barang-barang urban. Aku pengen dunia cepat direset karena pengen tahu apakah aku termasuk yang layak. Apakah setelah perjalanan–yang kuanggap–berat ini, levelku mencukupi untuk dipertahankan belajar di sesi kehidupan kali ini? I’m so dying to know that.

Tapi, apakah sepenting itu untuk tahu? Aku juga nggak tahu. Akhir-akhir ini malah aku ngerasa banyak tahu itu justru sangat membebani. Tapi kan mau nggak mau. Pada akhirnya, cepat atau lambat, pasti bakal tahu juga.

Jujur rasanya bingung banget. Parah. Nggak ada yang lebih ngeganjel dari ini, tapi aku bahkan nggak tahu apa yang ngeganjel.

Aku sering ngebayangin hidup di era sebelumnya. Apakah bakal semembingungkan ini? Apakah kalau hidup di masa lalu, aku bakal lebih tulus ngejalaninnya? Huft. Lagi-lagi pertanyaan tidak berguna.

Apakah memang kita ini dituntut harus berjuang sendiri-sendiri (selalu)? Pada akhirnya kan memang bakal sendirian, tapi apakah dengan kesadaran mengenai hal itu berarti harus membatasi diri ketika aku ngerasa butuh sama orang lain? But, maybe, at some given point, I don’t even befriend myself.

Belum apa-apa aku udah sering mikirin kemungkinan kehilangan selanjutnya. Pikiran yang sangat menganggu. Tapi entah kenapa kayak harus aja gitu, mikir begitu. Padahal semua orang juga sama tentang kemungkinan kehilangan. Namanya juga hidup. Itu kan sudah risiko umum. Tapi mungkin karena aku ngerasa sendiri, jadi ngerasa harus prepare lebih awal. Padahal mah mikirin juga ya nggak berarti prepare. I really hate this cowardly thinking.

Kemalangan di masa depan yang menunggu biasanya bentuknya tidak terduga. Jadi, sebenernya, nggak bener banget kalau malah menduga-duga kayak aku gini. Kalau diduga-duga, bukankah nanti yang bakal datang malah worse?

Udah males banget mencap diriku sendiri begini dan begitu. Kayak paling tahu aja. Tapi, bukankah penting untuk tahu diri?

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai