Ada titik di mana aku berpikir… buat apa sih mengenal diri sendiri? Memangnya kalau sudah kenal, bisa berbuat apa? Sepenting itukah memahami diri sendiri? Apa jaminannya bahwa usaha untuk lebih mengenal diri akan berhasil? Kenapa juga harus ada jaminan?
Tapi di sisi lain, mungkin aku diuntungkan juga karena dulu sempat begitu getol PDKT sama diri sendiri. Jadinya, sekarang kurasa sudah cukup deh. Lama-lama ngeri. Semakin ke dalam semakin tak ada apa-apa.
Masalahnya, ke mana pun aku menengok, kutemukan diriku relate di sana. Bangkai betul.
Jauh di lubuk hati (kalau ada) sebetulnya aku sudah mengantisipasi bahwa endingnya aku bakal menemukan bahwa diriku ini bukan apa-apa. Apakah itu suatu hal yang menyesakkan? Tapi kalau memang sebenarnya pribadiku ini nggak ada, apakah perasaan sesak yang kurasakan ini nyata? Berarti nggak, kan. Ya sudah kalau gitu. Berarti everything is fine—or not, whatever.
Yang menghidupkan aku, bukan aku. Yang mematikan aku nanti, juga bukan aku. Jadi aku ini ya nggak ngapa-ngapain sebenernya, ya kan? So it’s stupid to think that I do something. Lebih stupid lagi ketika berpikir bahwa aku melakukan sesuatu yang punya makna konkrit.
Sebagai orang yang hampir tidak pernah bekerja keras, aku tidak punya tuntutan apa-apa untuk direalisasikan. Tapi yang bikin konyol adalah aku masih saja punya ekspektasi terhadap orang lain. Mungkin ekspektasi ini timbul dari rasa percayaku sama orang lain tersebut. Apa mulai sekarang aku nggak usah percaya siapa-siapa lagi, ya? Tapi hidup dengan cara seperti itu kan pengecut. Tapi biar saja jadi pengecut daripada jadi… well, sebenarnya nggak ada yang lebih buruk atau lebih baik kan, jadi, ya sudah lah.
Toh, kepedulian kita semua terhadap apapun di dunia ini sama-sama berada di level artifisial alias banal alias dangkal. Coba saja dipreteli satu-satu. Pada akhirnya pasti bakal nyangkut sama kepentingan pribadi kita yang sebetulnya nggak penting-penting amat. Nggak lebih penting dari kelestarian planet bumi yang juga nggak lebih penting dari perasaan cinta siapapun terhadap siapapun.
Aku jadi paham betul kenapa retret itu penting. Yakni supaya aku bisa menemukan dan meng-haqqulyaqin-kan bahwa di alam semesta ini nggak ada yang penting, selain hasrat kita untuk buang air besar di pagi hari. Ternyata itulah satu-satunya kunci kebahagiaan.
BAB lancar, terasa longgar…
Tinggalkan komentar