Lunarisla


Overloaded

Aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa hal-hal yang aku tahu sampe sekarang bakal berguna, bakal bermanfaat, dan pada akhirnya bakal memberikan pengaruh yang penting di dalam hidup. Tapi, sumpah, ini berat banget. Dan sampe sekarang aku melewati setiap hari dengan berusaha mendistraksi diriku sendiri dari pemahaman-pemahaman ini. Tapi ke mana pun aku berusaha lari, mereka selalu ikut.

Aku nggak pernah merasa aku ini orang yang kuat—apalagi berani. Aku bukan orang yang bersungguh-sungguh dalam mengejar sesuatu. Bahkan mungkin seumur hidupku aku nggak pernah betul-betul mengejar sesuatu sampe mati-matian. Untuk orang selemah aku, kenapa aku mesti dipertemukan dengan pikiran-pikiran berat ini? Nggak jarang aku mikir begitu. Tapi siapa aku kok berani-beraninya menentukan apakah aku ini lemah atau kuat? Memangnya aku sudah 100% paham tentang diri sendiri?

Apa aku ini terlalu cepat menerima segala sesuatu, ya?

Nggak juga kayaknya. Tapi aku, jujur, memang nggak bisa merasa iri sama kondisi siapapun. Aku juga sudah nggak bisa ngeluh tentang keadaan lagi seperti dulu. Kalau dulu, liat apa-apa yang nggak sinkron, masih bisa ngeluh. Terus masih bisa iri juga sama orang lain yang kuanggap tahapan hidupnya sudah lebih maju. Sekarang, menghadapi dua hal tersebut, batinku langsung ngucap, “Ya udah lah. Memang begitu.” Mengeluh dan iri memang nggak akan membawa kita kemana-mana sih, tapi kadang aku kangen kondisi saat masih punya hasrat untuk dua hal itu.

Atau sebenarnya aku ini orang yang memang udah sepenuhnya menyerah, ya, sama apapun?

Kayaknya nggak juga. Aku masih terlibat kok dalam kegiatan hidup, meskipun nggak banyak (dan memang nggak mau banyak). Aku masih, terlepas dari beban berat yang kujelaskan di atas, sesekali nambah-nambahin beban yang sudah berat itu (alias goblok).

Aku sering mikir, kalau nggak ada Yeochin, entah udah se-stres apa aku ini. Eksistensi mereka bener-bener life-saver banget. Tapi ternyata nggak ringan juga ngidol yang sampe ke hati gini. Aku sering frustasi karena nggak bisa menyampaikan secara langsung rasa sayang, kagum, dan hormat yang aku rasain ke mereka. Fakta bahwa aku cuma satu dari sekian juta fans mereka, juga kadang bikin minder sendiri. Mungkin ini rasanya sama persis dengan jadi hamba Gusti Allah yang medioker dan nggak punya amalan apa-apa yang spesial.

Tapi, akhir-akhir ini, ada satu hal yang sering bikin aku bahagia dengan sangat mudah: makan. Aku ngerasa aku jadi orang yang paling beriman saat lagi makan, terutama kalau lagi makan makanan favorit. Sumpah ya, kalau lagi makan tuh aku ngerasa jadi orang paling beruntung sedunia, padahal mungkin banyak orang yang juga ngerasain hal yang sama, tapi nggak apa-apa lah sesekali ngehalu bahwa Gusti Allah khusus menciptakan makanan-makanan itu untuk kunikmati.

Tapi meskipun begitu, aku lumayan tahan-tahan soal makan ini. Parno banget kena diabetes.

Aku makin ngerasa tua. Hal paling mengganggu dari menjadi dewasa dan tua adalah kecemasan-kecemasan yang berkaitan dengan kesehatan. Aku nggak terlalu mikirin kalau misal harus mati muda, tapi kan kalau mati muda biasanya penyebabnya aneh-aneh. Nah, itunya yang masih belum bisa kuikhlasin. Aku bahkan takut untuk menjabarkan kecemasan-kecemasanku ini.

Setiap aku ngerokok, aku selalu sadar, 100% sadar bahwa ada risiko penyakit yang kutumbuhkan melalui aktifitas merokok ini. Juga ada satu addiction lagi yang juga kusadari betul 100% risikonya. Muna banget kan aku ini? Sok-sokan pengen healthy life tapi sendirinya ya nggak 100% menerapkan.

Dah, ah. Makin nulis, rasanya makin takut. Hehehe.

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai