Lunarisla


Halah;

Pada suatu sore, yaitu sore ini, saya tiba-tiba terpikirkan tentang diriku sendiri dan diri teman-temanku. Ketika saya menyadari ada begitu banyak perubahan dalam diriku, sekonyong-konyong saya pun berpikir bahwa teman-temanku itu pasti juga banyak berubahnya. Ada yang jadi lebih pintar. Ada yang jadi lebih sholeh. Yang jadi lebih nakal juga banyak sih. Di antara perubahan-perubahan itu mungkin ada beberapa yang perubahannya itu detrimetal (bertolakbelakang). Misalnya, yang tadinya suka keluyuran malam-malam dan jarang salat, jadi rajin salat. Atau yang tadinya berpemikiran konservatif berubah menjadi berpemikiran—apa tuh namanya—liberal. Saya mungkin termasuk yang itu. Tapi belakangan ini saya malah tidak suka yang seperti itu, yang bebas-bebas omong kosong begitu. Saya tidak percaya bahwa jika manusia diberi kebebasan, maka dia akan berbuat baik. Tapi saya juga tidak percaya jika manusia dikekang, maka dia akan berhenti atau terhindarkan dari berbuat jahat. Sama saja, ya?

Saya sendiri mungkin bisa jadi cukup bingung, tidak tahu saat ini saya berpemikiran seperti apa. Seperti tidak ada afiliasi terhadap apapun. Apakah ini yang dinamakan merdeka sepenuhnya? Saya kira tidak, karena justru saya bisa begini, bisa tidak memihak sama mana-mana gini, itu karena saya paham bahwa segala sesuatu ada batasnya. Ide, ideologi, atau paham apapun, tidak ada yang berdiri sendiri. Dan kalau dihubung-hubungkan dengan serius, sebenarnya semua hal juga bisa nyambung. Percaya deh. Salah satu buktinya adalah kata-kata barusan ini. Itu bukan dari saya, tapi dari orang zaman dulu bernama Schuon.

Pada satu titik kadang saya berpikir bahwa saya ini, sebab ketidakberpihakan saya pada mana pun, bisa nyambung kalau ngobrol dengan siapa saja dari teman-temanku itu. Meskipun mungkin bakal ada preferensi tertentu, itu pasti. Dan kalau ngobrolnya panjang dan lama, mungkin saya juga bakalan pilih-pilih sih. Tapi secara garis besar sepertinya saya jadi orang lumayan terbuka sama obrolan. Itu kadang-kadang ya. Di kadang-kadang yang lain, saya sering muak bahkan ngorbol dengan keluarga saya sendiri. Apa yang mereka ucapkan sama sekali tidak membuat saya berselera. Kadang sama teman dekat pun begitu. Padahal secara pemikiran teman dekat biasanya lebih dekat dari keluarga. Meskipun teman dekat itu tidak ngasih makan dan tidak memberikan tempat tinggal.

Di perjalanan pulang dari usaha mencari gepuk ke pasar sore tadi, di atas motor yang sedang melaju pelan, saya berpikir, benarkah ikatan darah sekuat itu? Kadang saya membayangkan kondisi di mana kita bisa memilih untuk pergi meninggalkan rumah seperti seorang pacar putus dengan pacarnya. Kemudian setelah dipikir-pikir, ikatan darah mungkin memang tidak sekuat itu, tapi di sisi lain, memang tidak ada ikatan apapun yang benar-benar kuat kecuali ikatan antara dua individu yang sedang berahi. Itu pun sangat sesaat, jadi tidak usah dihitung lah.

Akhir-akhir ini saya sering stres melihat kondis rumah yang berantakan. Aneh sekali. Soalnya dulu waktu masih ngekos, kosan saya juga berantakan. Tapi sepertinya berbeda. Dulu kosan saya meskipun berantakan, barang-barangnya sangat sedikit dibandingkan dengan barang-barang yang ada di rumahku ini. Selain sedikit, barang-barang yang ada di kosan saya juga berguna semua. Tidak ada barang  yang tidak berguna (kecuali mungkin puluhan botol kosong yang entah kenapa saya terobsesi untuk menyimpannya di bawah kolong kasur saya waktu itu). Di rumah, sebaliknya, saya rasa ada banyak barang yang sebenarnya tidak berguna, tetapi tetap dibiarkan ada di situ. Atau barang-barang yang masih berguna, tapi tidak disimpan pada tempat yang semestinya. Sebenarnya kalau ini saya rada bisa maklum, karena saya sendiri dulu waktu di kosan sering kelepasan menaruh laptop si Tondy di atas kasur dan sayanya tidur, atau pernah juga saya manaruh baju-baju bersih yang baru diangkat dari jemuran, saya taruh di atas lemari baru dari Pak Misran (Pak Kos)—maksudnya, kalau ada lemari, kenapa tidak ditaruh di dalamnya saja, bukan di atasnya. Tapi sebenarnya, saya kembali ingin tegas, masalah di rumah saya ini adalah terlalu banyak barang. Tidak diinventarisir pula. Tidak ada data berapa jumlah piring, gelas, sendok, dan perabotan lainnya. Penggunaannya pun tidak ditata dengan baik. Marie Kondo saya jamin semaput kalau berkunjung ke rumah saya.

Kadang saya berpikir ingin cepat minggat dari rumah dan tinggal sendiri. Tapi tinggal sendiri kan sudah pernah di kosan. Makanya kali ini mungkin saya pengin berumah tangga. Aih. Ganjil sekali kata-kata itu keluar dari saya. Menikah mungkin merupakan prioritas terakhir yang ada di daftar to-do-list saya yang tidak berisi apa-apa. Tapi walau bagaimanapun, rasanya asik juga sih membayangkan tinggal berdua dengan seorang perempuan di suatu rumah. Kalau bisa sih milik sendiri, nyicil juga nggak masalah. Saya—eh—kami maksudnya, akan merawat rumah itu dengan telaten seperti merawat anak manusia. Saya akan belajar membetulkan genteng. Bila perlu saya akan kursus cara jitu membetulkan pipa air yang rusak. Saya ingin rumah kami swasembada dalam segala aspek. Baru deh kalau sistem di dalam rumah sudah apik betul, baru deh…

Nah, itu khayalan doang sih. Siapa juga yang mau saya ajak hidup bersama. Sejujurnya saat ini saya sedang bingung menentukan langkah mana yang mesti saya ambil berkenaan dengan kehidupan asmara. Tapi itu mungkin bisa dipikir nanti. Atau mesti sekarang? Lah, bingung lagi tuh.

Satu hal yang pasti, bercermin dari kondisi rumah saat ini, kriteria paling penting dalam membikin rumah tangga mungkin adalah keseriusan untuk selalu mengelola si rumah dengan baik dalam jangka waktu yang sepanjang-panjangnya, selama-lamanya. Aspek fisik, aspek estetik, aspek psikologis, aspek mistis, apa lagi tuh, pokoknya semua deh, semuanya harus selalu diperhatikan dan direncanakan dengan baik. Tapi, bercermin dari kondisi rumah saat ini, saya kira memang cukup sulit untuk mengatur rumah menjadi harmonis, terlebih jika kepala di rumah itu cukup banyak. Makanya saya lumayan heran, sedikit greget, sama sepupu saya yang tinggal di rumah di depan rumahku, yang di situ ada tinggal tiga kepala keluarga. Sepupu saya itu memang lagi bikin rumah sih, jadi numpuk di rumah itu cuma sementara. Semoga rumah dia cepat jadi.

Maksud saya begini, ternyata, ketika menjalankan sebuah keluarga, rapat dan komunikasi itu pentingnya bukan main. Mungkin saya rada senewen karena membayangkan pengin punya keluarga yang dijalankan macam korporasi, ada rapatnya, ada evaluasinya. Tapi selama hal tersebut tidak mengikis esensi berkeluarga-nya, saya kira tidak masalah. Mungkin karena saya lahir di lingkungan Sunda dan di zaman peralihan yang serba tanggung, makanya tidak mungkin melaksanakan pola seperti itu di rumah. Intinya saya ingin berkeluarga itu setara dalam eksistensi. Tidak ada yang lebih berkuasa, tidak ada yang lebih perlu dihormati dan segala macam. Dan intinya sih tidak boleh memendam hal-hal yang seharusnya diungkapkan. Itulah kekeliruan yang saya alami selama ini, mungkin.

Keluarga juga harus menjadi tempat pembelajaran utama. Itu sih yang mungkin jauh lebih susah lagi. Saya pengin ada progres belajar yang kontinyu di dalam keluarga saya nanti. Mungkin kesannya berat dan sok akademis, tapi ya begitulah. Tapi kan saya nggak bakal jadi professor juga. Ngapain? Tapi belajar kan tetep harus. Biar bergairah aja, gitu. Kalau suntuk baru tuh liburan. Enak banget kalau bisa sekeluarga tinggal di dimensi yang lebih tinggi dari sekadar dimensi fisik yang rentan perubahan ini.

Mungkin itu yang bikin Mama saya sakit lambungnya tidak kelar-kelar. Mama saya tidak ada gairah untuk apapun. Pas saya wisuda kemarin mungkin merupakan puncak penantiannya sejak lama, sejak kuliah saya dulu mulai bermasalah. Setelah itu nggak ada lagi yang Mama tunggu selain pernikahan saya, mungkin. Aduh, Ma, masih lama deh kayaknya. Masa sih kesenangan hidup digantungkan pada orang lain? Eh, durhaka nggak sih ngomong (baca: nulis) begini? Maksud saya, saya tuh pengen Mama itu punya hobi sendiri, apa kek, biar bisa bergairah dan cepat sehat kembali. Tetangga saya ada yang umurnya sepantaran Mama, tapi sehat sekali orangnya meskipun banyak juga pekerjaan rumah. Tahu apa rahasianya? Tiap hari dia karaokean di rumahnya. Nah, itu. Saya sering merasa Mama saya sakit itu karena beliau nggak punya kesibukan menyenangkan yang bisa dijalaninya setiap hari. Ditambah adik saya yang sudah SMP dan kedul kalau dimintain tolong. Ditambah saya yang nggak ada nafsu buat cari kerja. Ditambah Appa yang sudah semakin tua dan mulai mengeluh sakit-sakit juga. Mungkin beban pikiran inilah yang membikin Mama saya sakit dan sakitnya awet. Tapi bisa jadi dugaan saya ini salah.

Sedih saya bukan karena sakitnya itu, tapi karena kalau tidak sedang sakit pun, Mama tidak benar-benar terlihat… apa ya… duh, saya juga sudah lupa kondisi ketika Mama masih sehat bugar. Nggak tahu lah. Akhir-akhir ini saya jadi sering pengen minggat dari rumah. Frustasi karena memang tidak berpengalaman berhadapan dengan anggota keluarga yang sakit lama begini. Dulu pas almarhumah adik saya dirawat di RS, itu dirawatnya di Jakarta, dan saya tidak ikut nungguin. Itu pun pas di Jakarta itu tidak lama kok. Tahu-tahu dia udah nggak ada aja.

Karena di kampung ada proyek bikin saluran septic tank terpusat, akhir-akhir ini saya jadi tidak ada kesempatan ngobrol dengan Appa. Padahal ngobrol dengan beliau adalah salah satu kegiatan esensial yang bisa bikin saya kerasan di rumah. Saya pun sekarang sudah lupa bagaimana situasinya ketika dulu masih bisa banyak ngobrol. Tapi kadang saya juga rada kapok. Kadang saya nyesel sendiri kalau suatu waktu ngomong terlalu panjang dan mendalam ke bapak saya. Tapi biasanya kalau ada kesempatan, ya diulangi lagi. Bagaimanapun, orang terdekat yang ingin saya ajak belajar ya orang-orang di keluarga saya yang sekarang, sebetulnya. Kalau nunggu bikin keluarga baru bisa keburu mati kali.

Sia-sia ini gelar sarjana kalau tidak dimanfaatkan untuk mengembangkan masyarakat sekitar. Iya, gak? Tapi kata Mama, selamatkan dulu diri sendiri, baru bisa menyelamatkan orang lain. Dulu mungkin saya ingin menentang pendapat itu. Dulu saya berpikir kalau misalkan semua orang seperti itu, mau sampai kapan kondisi carut-marut terjadi? Menyelamatkan diri sendiri seolah-olah kita semua ini terpisah, padahal setiap masalah yang ada di dunia ini tuh semuanya bertalian. Dulu sempat berpikir begitu, tapi sekarang mungkin tidak begitu lagi. Bukan berarti saya setuju juga dengan pendapatnya. Bahwa kita semua ini bertalian, saya masih memegang prinsip itu, tapi bahwa misi hidup adalah untuk menyelamatkan, saya sudah nggak mau urus lagi. Sok hebat amat kita kalau mengira bisa menyelamatkan, jangankan orang lain, mungkin menyelamatkan diri sendiri saja tidak akan mampu.

Ini bukan doa, tapi semoga saya bisa segera memposisikan diri dengan baik dalam kondisi hidup yang sekarang ini. Mungkin salah satu caranya adalah dengan memberi saya teman untuk belajar yang bisa sambil cuddling. Mungkin. Ah, tapi kayaknya terlalu muluk-muluk. Yang jelas, baik saya atau siapapun, harus mulai siap siaga untuk menghadapi berbagai krisis dan tragedi yang mungkin bakal menerjang banyak orang, dan nggak bisa di-cancel.

Siap-siap aja.

 

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai