Lunarisla


Hantu

Membaca tulisan di halaman-halaman terakhir buku harian Ahmad Wahib membuat saya sedih sendiri. Saya tidak tahu apakah saya berhak merasa sedih seperti ini, tapi sebenarnya kesedihan ini pun tidak sepenuhnya saya rasakan untuk Mas Wahib. Sebagian terasa untuk diri sendiri dan teman-teman seangkatan (usia). Kegelisahan-kegelisahan yang khawatir tidak terjawab hingga ajal menjemput. Bukan berarti hal yang buruk juga, sih.

ENpGccTUwAAVEvI

Kenapa orang seperti Ahmad Wahib, dengan ide-ide cemerlangnya, mesti mati muda? Saya jadi menyangsikan asumsi yang selama ini saya pegang, bahwa orang dengan ide-ide penting tidak akan dicabut dulu nyawanya sampai ide-idenya itu bisa terealisasikan. Tapi, bisa jadi, kalau hidupnya lebih panjang, mungkin buku harian Ahmad Wahib tidak akan terbit seperti ini. Mungkin beliau akan berubah jika hidup lebih lama. Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.

Membaca catatan-catatan terakhirnya membuat saya merefleksikan diri saya sendiri. Bagaimana jika misalnya ternyata entri yang saya tulis ini—dan bahkan mungkin belum sempat diunggah ke dunia maya—adalah entri terakhir yang saya tulis? Apa yang akan terjadi? Adakah yang akan menemukannya atau semua tulisan-tulisan saya akan hilang begitu saja? Dilupakan.

Dengan konsep kematian yang saya anut sekarang, sebenarnya tidak penting apakah orang-orang akan mengenang saya atau tidak. Urusan hidup di dunia bersama orang-orang, sebenarnya hanya sebatas sarana untuk menggembleng jiwa saya sendiri. Toh, sepertinya tidak akan berhasil sekali jalan juga (artinya pasti kena antrian reinkarnasi). Jika bagian yang terpenting dalam eksistensi esensial kita adalah jiwa abadi, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Cuma… ya sedih saja. Tidak ada jaminan juga bahwa saya akan mengingat hidup yang saat ini di hidup yang akan datang. Tapi, katanya, jika pembelajaran yang didapatkan terpatri dengan kuat di dalam jiwa, maka secara otomatis buahnya akan dituai di hidup yang akan datang, bahkan mungkin sudah bisa dimanfaatkan ketika masih dalam kondisi tak bertubuh alias mati.

Nah, kalau kematian ternyata memang cuma seperti nyeberang doang, saya jadi penasaran, ada tidak ya, hantu gentayangan yang gemar membaca buku? Bagaimana menurut Anda?

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai