Lunarisla


Pengecut

Aku selalu salut. Kepada mereka yang bunuh diri atau pun melanjutkan hidup setelah mengetahui bahwa dunia ini memang tahi—tahi yang didaur ulang terus menerus. Baik mengakhiri atau pun menyambung hidup, keduanya membutuhkan keberanian yang tidak sedikit ketika kau menyadari bahwa tali kekangnya ada padamu. Ketika kau menyadari bahwa kau—secara teori—dapat melakukan apa saja, tapi di waktu yang sama kau juga tak berdaya. Ketika kau benar-benar memahami bahwa kesendirian adalah kondisi default dari kehidupan maupun kematian. Ketika kau tak lagi tahu siapa dirimu, karena memang sejak awal ia tak ada. Tak ada yang ada.

Di tengah hingar bingar dunia yang padahal sunyi, orang-orang ini mengambil keputusan paling waras untuk tak lagi ikut serta memeriahkan lelucon kosong yang semua orang bualkan. Ketika manusia-manusia masih dininabobokan oleh mimpi-mimpi kapital atau religius, orang-orang ini dengan gagah menatap realita yang usang secara apa adanya, dan menghitung semua langkah dengan penuh kejujuran. Tidak lagi bersembunyi atau memalingkan wajah. Tidak lagi membesar-besarkan atau mengecil-ngecilkan segala sesuatu.

Bagi mereka, tak ada ilusi atau kenyataan. Semuanya telanjang, termasuk diri sendiri, dan sama rata. Makna tak selamanya kosong, kita bisa membuatnya—atau tidak, itu terserah. Semua hidup berharga, begitu juga semua kematian yang terencana—sama berharganya.

Di saat semua orang merasa tahu, mereka tahu bahwa mereka tidak tahu, dan itu bukan masalah sama sekali. Karena hidup ini bukan untuk menjadi sok tahu dan menghakimi. Hidup ini dijalani saja, atau diakhiri, sebagaimana mestinya. Kemestian yang seperti apa? Tidak ada. Oleh karena itu, perlu kegigihan yang besar untuk membuatnya menjadi ada, lalu memegangnya erat-erat.

Aku tidak berani. Aku tidak punya keberanian sebesar itu.

Mati pun butuh modal kan, sebagaimana hidup. Selain menyiapkan surat wasiat yang sebisa mungkin terlihat keren, kau juga harus meneliti cara mati yang paling tidak menyakitkan—dan murah. Kau juga harus rela melepaskan serial-serial favoritmu yang sedang kau tunggu musim lanjutannya. Musik-musik indah yang terasa mencapai jiwa. Akun-akun lucu di Twitter. Mereka yang relate denganmu meskipun berjarak ratusan kilometer. Ah, ada satu pengorbanan yang paling berat: kau mungkin tidak akan bisa lagi makan mi ayam. Untuk bersedia meninggalkan setidaknya satu saja dari semua keseruan itu, kurasa dibutuhkan berton-ton keberanian yang tidak gampang dikumpulkan.

Tapi melanjutkan hidup juga bukan suatu kesenangan. Ada banyak kemalangan yang secara acak akan menghampirimu tiba-tiba. Mungkin tidak semuanya tiba-tiba, tapi orangnya saja yang tidak sadar. Seperti, misalnya, penyakit. Ada banyak penyakit yang sebetulnya terjadi karena akumulasi cara hidup tidak benar yang kita lakukan. Kesalahan-kesalahan kecil yang akhirnya menumpuk dan menemukan keberuntungannya—untuk membunuhmu. Diabetes dan stroke (yang berakhir kelumpuhan, bukan kematian) tidak terjadi dalam semalam. Tapi memang ada juga penyakit yang sudah dari sananya alias apes. Glaukoma, misalnya, pembengkakan bola mata yang menyebabkan kebutaan itu, yang sakitnya minta ampun itu, tidak disebabkan oleh bakteri, gaya hidup buruk, atau kejedot pintu. Ia muncul tiba-tiba. Bisa jadi Tuhan sedang bad mood saja ketika Dia menurunkan penyakit itu pada seseorang. Tuhan tidak main-main kalau sedang menyiksa manusia—atau makhluk hidup lainnya, wallahua’lam.

Tidak semuanya terjadi dengan alasan. Dan tidak semua orang hadir untuk tujuan-tujuan. Banyak orang mati sia-sia. Banyak sekali. Di saat kesadaran dan kesempatan untuk bunuh diri sambil menggelarnya secara live di media sosial terbuka lebar, orang-orang yang memilih untuk stay chill dan lanjut hidup meski digerayangi rasa was-was setiap hari adalah true hero. Terima kasih. Kalian sangat layak mendapatkan penghormatan dari segala penjuru dunia.

Adapun untuk mereka yang mengambil jalan pintas, terima kasih untuk selalu mengingatkan bahwa dunia ini memang tidak terlalu berharga. (Tapi kalau itu aku sudah khatam sih.)

Dipublikasikan oleh


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai